Menjaga Interaksi dengan Lawan Jenis
Oleh : M. Arif As-Salman
Bakar, salah seorang teman saya, mengundurkan diri dari kepengurusan di sebuah Organisasi yang baru ia geluti. Sejak dulu ia saya kenal seorang yang aktif dan berjiwa organisatoris. Tidak hanya aktif, namun ia seorang yang punya kharismatik dan penuh daya tarik. Cara bicara yang tepat dan sistematis, kata-katanya yang sanggup menghujam hati, sikapnya yang lembut dan tegas, penampilannya yang selalu rapi dan sopan, berwajah tampan dan ia juga seorang yang cerdas. Namun belakangan, ia banyak menghindar dari organisasi yang didalam kegiatannya tidak ada pemisah antara ikhwan dan akhwat. Ketika saya tanya apa alasan pengunduran diri tersebut, ia menjawab, " Akhir-akhir ini, beberapa orang akhwat menaruh perhatian lebih pada saya, sering menghubungi saya dengan alasan keperluan organisasi dan yang parahnya ada salah seorang yang selalu memikirkan tentang saya, cerita seorang teman yang sekamar dengan ukhti tersebut. Saya sadar dengan kesanggupan saya, sulit bagi saya untuk menahan pandangan mata dan menjaga niat. Apalagi kondisi saya yang belum menikah. Biarlah hal itu saya tinggalkan, asal iman saya selamat dan ibadah saya tenang."
Tindakan Bakar menurut sebagian orang akan dianggap tindakan yang kurang tepat, dengan segala argumen yang menjadi dasar penolakan mereka. Dan sebagian lain cenderung untuk menyetujui, juga dengan segala argumen yang memperkuat pendapat tersebut. Intinya, kembali pada masing-masing individu, dari arah mana dan kerangka berfikir bagaimana yang dipakai dalam menanggapi sikap Bakar diatas. Likulli ra`sin ra`yun (Setiap kepala punya pendapat).
Menurut hemat penulis orang seperti Bakar adalah contoh orang yang punya muraqabah dengan Allah. Ia sangat sadar bahwa kemanapun, dimanapun dan kapanpun, Allah selalu melihat dan mengetahui gerak-geriknya, bahkan apa yang dibisikkan hatinya. Ia sadar akan potensi hasrat yang ada dalam dirinya terhadap lawan jenis, ia juga tahu akan kadar kemampuan kontrolnya terhadap dirinya.
Saat ini cinta lokasi tidak hanya mengena para artis , tapi juga kisah-kisah aktifis dakwah yang jatuh cinta di lokasi medan dakwah juga sering terjadi dan ini tidak hanya menimpa orang-orang yang belum nikah, tapi juga orang-orang yang sudah menikah, seperti beberapa pengakuan dalam tanya jawab yang pernah penulis baca di sebuah situs islam. Dan itu baru yang mengaku, sedangkan yang belum terungkap, penulis berkeyakinan masih banyak.
Bagaimanapun juga seseorang akan sulit untuk menundukkan pandangan mata, menjaga iman dan menjaga niat di hati kalau sudah berhadapan langsung dengan lawan jenis. Apalagi bila lawan jenis tersebut punya daya tarik, seperti tampan/cantik, pintar, rapi, santun, banyak ilmu, jadi rujukan dan nilai-nilai plus lainnya. Akan timbul bisikan dihati, "Barangkali inilah pendamping ideal yang saya dambakan", dan bisikan-bisikan lainnya yang kalau tidak bisa terkontrol akan menggangu hati dan pikiran. Walau kita tidak menafikan bahwa diantara mereka yang banyak tersebut ada orang-orang yang soleh dan kuat imannya. Tapi forum tersebut dibuka untuk umum. Dan orang yang banyak tersebut walau secara zahir nampak soleh , tapi kita tidak tahu apa isi hatinya, bagaimana kadar imannya. Karena setiap orang tidak berada dalam kadar iman yang tetap dan sama. Setiap orang berbeda kadar iman dan pengamalan serta pemahaman agamanya.
Orang-orang yang sudah berkeluarga terkadang tidak bisa terhindar dari hal ini, maka bagaimanakah dengan orang-orang yang belum menikah. Dan orang-orang yang imannya kuat bisa terkena virus ini, maka bagaimanakah dengan orang-orang yang imannya masih lemah dan ala kadarnya.
Inilah menurut penulis diantara sebab tidak dianjurkannya ikhtilath antara laki-laki dengan perempuan karena lebih besar mudharatnya bahkan dalam urusan ibadah dan belajar sekalipun.
Dalam shalat seorang wanita tidak boleh bersuara mengatakan 'amin' dan kalau imam terlupa ia juga tidak boleh mengatakan 'subhanallah', dan sebaik shaf wanita adalah yang paling belakang dan yang paling buruk adalah yang paling depan. Kalau dalam perkara ibadah begitu ketatnya, bagaimanakah dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Dan kita semua ma`lum bahwa wanita adalah senjata syetan paling ampuh untuk menyeret seorang hamba Allah ke lembah nista. Dan syetan tersebut menjadikannya sebagai tunggangannya.
Kita sendiri juga pernah mendengar melalui berita, bagaimana seorang Ustdaz menzinahi santriwatinya, seorang guru ngaji mencabuli muridnya, dan cerita-cerita lainnya yang sangat memilukan hati kita.
Dalam lingkungan pesantren hubungan surat-menyurat antara santri dengan santriwati sering kedapatan, pertemuan diluar pesantren, berkunjung kerumah, hubungan ustadz dengan santriwati atau santri dengan ustadzah , bahkan diantara ustadz tersebut diusir karena perkara ini. Bagaimanapun juga adanya ikhtilath tanpa sitar pembatas tetap akan lebih banyak mudharatnya, baik sekarang ataupun pada masa yang akan datang. Baik ia nampak melalui sikap ataupun tersembunyi dalam hati dan pikiran, sehingga ia selalu menjadi bahan pikiran dan membuat hati selalu gundah gulana.
Bagaimanakah kita akan bisa menundukkan pandangan mata kalau kita berhadap-hadapan dengan wanita, sedangkan perintah Allah dalam Al-Qur`an: "Katakanlah pada orang-orang yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka …………….,"(pada ayat selanjutnya) "Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka ……."
Allah sendiri telah memerintahkan pada wanita-wanita beriman untuk tidak berkata-kata yang akan menimbulkan hasrat, seperti halus, lunak dan sejenisnya, sehingga tidak timbul niat buruk di hati orang-orang yang hatinya berpenyakit.
Allah telah perintahkan untuk jangan mendekati zina , jangan melakukan segala perbuatan yang membawa pada perbuatan zina. Rasulullah saw telah menerangkan bahwa setiap anggota tubuh kita ada bagian zinanya, mata dengan melihat, telinga mendengar, tangan menyentuh, kaki melangkah dan seterusnya sampai pada zina yang sesungguhnya.
Kisah-kisah perselingkungan dalam kehidupan kota metropolitan adalah suatu hal yang biasa dan sering terdengar. Suami yang selingkuh dengan sekretarisnya ataupun istri yang selingkuh dengan teman sekantor atau dengan gigolo banyak terjadi, baik itu terungkap atau masih tersembunyi. Istri yang terlalu sibuk diluar rumah dengan segala aktifitasnya, baik di kantor atau pun aktifitas lainnya, banyak yang terpeleset. Sehingga ia sering sms-an, telponan, jalan berdua, makan berdua dan akhirnya terjadi hubungan yang haram itu. Begitu juga dengan suami yang sibuk di kantor atau keluar kota untuk suatu keperluan , terkadang juga terkena dengan hal ini.
Apalagi di kehidupan barat, hidup yang tidak ada ruh agamanya, hidup yang bebas berekspresi, bebas berpendapat dan berbuat, hal-hal ini tentu sudah biasa terjadi.
Maka langkah yang baik, yang selamat dan yang akan menjaga pandangan mata, kejernihan hati, kemanisan iman dan ibadah adalah sedapat mungkin menghindari segala kegiatan yang disana ada interaksi terbuka (ikhtilath) antara laki-laki dengan perempuan, terutama bagi yang belum menikah. Dengan demikian kita akan bisa merasakan indahnya bermunajat, nikmatnya beribadah dan manisnya ketaatan pada Allah, mau bukti, silahkan cobakan!
Terakhir, penulis serahkan pada pembaca, karena anda lebih tahu dengan diri anda dan setiap anda tentu punya persepsi masing-masing. Mari kita jujur dengan hati kita , apakah dengan ikhtilath mata kita bisa terjaga, pendengaran kita bisa terjaga, niat dan hati kita bisa terjaga, kata-kata kita bisa terjaga, dan pikiran kita bisa terjaga ? Kalau anda yakin bisa, silahkan berinteraksi dalam kerangka saling tolong-menolong pada kebaikan dan ketaatan dan tetap ada batasannya. Dan kalau belum bisa mengontrol diri , tentu menjaga iman, ketenangan hati dan kemanisan beribadah lebih utama dipertahankan dan di prioritaskan. Pada intinya setiap orang harus bisa dengan bijak dan tepat melihat kemampuan dirinya, sehingga dengan demikian ia akan bisa secara tepat memposisikan dirinya dan tidak salah dalam menempatkan diri. Wallahul a`lam
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
Oleh : M. Arif As-Salman
Bakar, salah seorang teman saya, mengundurkan diri dari kepengurusan di sebuah Organisasi yang baru ia geluti. Sejak dulu ia saya kenal seorang yang aktif dan berjiwa organisatoris. Tidak hanya aktif, namun ia seorang yang punya kharismatik dan penuh daya tarik. Cara bicara yang tepat dan sistematis, kata-katanya yang sanggup menghujam hati, sikapnya yang lembut dan tegas, penampilannya yang selalu rapi dan sopan, berwajah tampan dan ia juga seorang yang cerdas. Namun belakangan, ia banyak menghindar dari organisasi yang didalam kegiatannya tidak ada pemisah antara ikhwan dan akhwat. Ketika saya tanya apa alasan pengunduran diri tersebut, ia menjawab, " Akhir-akhir ini, beberapa orang akhwat menaruh perhatian lebih pada saya, sering menghubungi saya dengan alasan keperluan organisasi dan yang parahnya ada salah seorang yang selalu memikirkan tentang saya, cerita seorang teman yang sekamar dengan ukhti tersebut. Saya sadar dengan kesanggupan saya, sulit bagi saya untuk menahan pandangan mata dan menjaga niat. Apalagi kondisi saya yang belum menikah. Biarlah hal itu saya tinggalkan, asal iman saya selamat dan ibadah saya tenang."
Tindakan Bakar menurut sebagian orang akan dianggap tindakan yang kurang tepat, dengan segala argumen yang menjadi dasar penolakan mereka. Dan sebagian lain cenderung untuk menyetujui, juga dengan segala argumen yang memperkuat pendapat tersebut. Intinya, kembali pada masing-masing individu, dari arah mana dan kerangka berfikir bagaimana yang dipakai dalam menanggapi sikap Bakar diatas. Likulli ra`sin ra`yun (Setiap kepala punya pendapat).
Menurut hemat penulis orang seperti Bakar adalah contoh orang yang punya muraqabah dengan Allah. Ia sangat sadar bahwa kemanapun, dimanapun dan kapanpun, Allah selalu melihat dan mengetahui gerak-geriknya, bahkan apa yang dibisikkan hatinya. Ia sadar akan potensi hasrat yang ada dalam dirinya terhadap lawan jenis, ia juga tahu akan kadar kemampuan kontrolnya terhadap dirinya.
Saat ini cinta lokasi tidak hanya mengena para artis , tapi juga kisah-kisah aktifis dakwah yang jatuh cinta di lokasi medan dakwah juga sering terjadi dan ini tidak hanya menimpa orang-orang yang belum nikah, tapi juga orang-orang yang sudah menikah, seperti beberapa pengakuan dalam tanya jawab yang pernah penulis baca di sebuah situs islam. Dan itu baru yang mengaku, sedangkan yang belum terungkap, penulis berkeyakinan masih banyak.
Bagaimanapun juga seseorang akan sulit untuk menundukkan pandangan mata, menjaga iman dan menjaga niat di hati kalau sudah berhadapan langsung dengan lawan jenis. Apalagi bila lawan jenis tersebut punya daya tarik, seperti tampan/cantik, pintar, rapi, santun, banyak ilmu, jadi rujukan dan nilai-nilai plus lainnya. Akan timbul bisikan dihati, "Barangkali inilah pendamping ideal yang saya dambakan", dan bisikan-bisikan lainnya yang kalau tidak bisa terkontrol akan menggangu hati dan pikiran. Walau kita tidak menafikan bahwa diantara mereka yang banyak tersebut ada orang-orang yang soleh dan kuat imannya. Tapi forum tersebut dibuka untuk umum. Dan orang yang banyak tersebut walau secara zahir nampak soleh , tapi kita tidak tahu apa isi hatinya, bagaimana kadar imannya. Karena setiap orang tidak berada dalam kadar iman yang tetap dan sama. Setiap orang berbeda kadar iman dan pengamalan serta pemahaman agamanya.
Orang-orang yang sudah berkeluarga terkadang tidak bisa terhindar dari hal ini, maka bagaimanakah dengan orang-orang yang belum menikah. Dan orang-orang yang imannya kuat bisa terkena virus ini, maka bagaimanakah dengan orang-orang yang imannya masih lemah dan ala kadarnya.
Inilah menurut penulis diantara sebab tidak dianjurkannya ikhtilath antara laki-laki dengan perempuan karena lebih besar mudharatnya bahkan dalam urusan ibadah dan belajar sekalipun.
Dalam shalat seorang wanita tidak boleh bersuara mengatakan 'amin' dan kalau imam terlupa ia juga tidak boleh mengatakan 'subhanallah', dan sebaik shaf wanita adalah yang paling belakang dan yang paling buruk adalah yang paling depan. Kalau dalam perkara ibadah begitu ketatnya, bagaimanakah dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Dan kita semua ma`lum bahwa wanita adalah senjata syetan paling ampuh untuk menyeret seorang hamba Allah ke lembah nista. Dan syetan tersebut menjadikannya sebagai tunggangannya.
Kita sendiri juga pernah mendengar melalui berita, bagaimana seorang Ustdaz menzinahi santriwatinya, seorang guru ngaji mencabuli muridnya, dan cerita-cerita lainnya yang sangat memilukan hati kita.
Dalam lingkungan pesantren hubungan surat-menyurat antara santri dengan santriwati sering kedapatan, pertemuan diluar pesantren, berkunjung kerumah, hubungan ustadz dengan santriwati atau santri dengan ustadzah , bahkan diantara ustadz tersebut diusir karena perkara ini. Bagaimanapun juga adanya ikhtilath tanpa sitar pembatas tetap akan lebih banyak mudharatnya, baik sekarang ataupun pada masa yang akan datang. Baik ia nampak melalui sikap ataupun tersembunyi dalam hati dan pikiran, sehingga ia selalu menjadi bahan pikiran dan membuat hati selalu gundah gulana.
Bagaimanakah kita akan bisa menundukkan pandangan mata kalau kita berhadap-hadapan dengan wanita, sedangkan perintah Allah dalam Al-Qur`an: "Katakanlah pada orang-orang yang beriman hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka …………….,"(pada ayat selanjutnya) "Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka ……."
Allah sendiri telah memerintahkan pada wanita-wanita beriman untuk tidak berkata-kata yang akan menimbulkan hasrat, seperti halus, lunak dan sejenisnya, sehingga tidak timbul niat buruk di hati orang-orang yang hatinya berpenyakit.
Allah telah perintahkan untuk jangan mendekati zina , jangan melakukan segala perbuatan yang membawa pada perbuatan zina. Rasulullah saw telah menerangkan bahwa setiap anggota tubuh kita ada bagian zinanya, mata dengan melihat, telinga mendengar, tangan menyentuh, kaki melangkah dan seterusnya sampai pada zina yang sesungguhnya.
Kisah-kisah perselingkungan dalam kehidupan kota metropolitan adalah suatu hal yang biasa dan sering terdengar. Suami yang selingkuh dengan sekretarisnya ataupun istri yang selingkuh dengan teman sekantor atau dengan gigolo banyak terjadi, baik itu terungkap atau masih tersembunyi. Istri yang terlalu sibuk diluar rumah dengan segala aktifitasnya, baik di kantor atau pun aktifitas lainnya, banyak yang terpeleset. Sehingga ia sering sms-an, telponan, jalan berdua, makan berdua dan akhirnya terjadi hubungan yang haram itu. Begitu juga dengan suami yang sibuk di kantor atau keluar kota untuk suatu keperluan , terkadang juga terkena dengan hal ini.
Apalagi di kehidupan barat, hidup yang tidak ada ruh agamanya, hidup yang bebas berekspresi, bebas berpendapat dan berbuat, hal-hal ini tentu sudah biasa terjadi.
Maka langkah yang baik, yang selamat dan yang akan menjaga pandangan mata, kejernihan hati, kemanisan iman dan ibadah adalah sedapat mungkin menghindari segala kegiatan yang disana ada interaksi terbuka (ikhtilath) antara laki-laki dengan perempuan, terutama bagi yang belum menikah. Dengan demikian kita akan bisa merasakan indahnya bermunajat, nikmatnya beribadah dan manisnya ketaatan pada Allah, mau bukti, silahkan cobakan!
Terakhir, penulis serahkan pada pembaca, karena anda lebih tahu dengan diri anda dan setiap anda tentu punya persepsi masing-masing. Mari kita jujur dengan hati kita , apakah dengan ikhtilath mata kita bisa terjaga, pendengaran kita bisa terjaga, niat dan hati kita bisa terjaga, kata-kata kita bisa terjaga, dan pikiran kita bisa terjaga ? Kalau anda yakin bisa, silahkan berinteraksi dalam kerangka saling tolong-menolong pada kebaikan dan ketaatan dan tetap ada batasannya. Dan kalau belum bisa mengontrol diri , tentu menjaga iman, ketenangan hati dan kemanisan beribadah lebih utama dipertahankan dan di prioritaskan. Pada intinya setiap orang harus bisa dengan bijak dan tepat melihat kemampuan dirinya, sehingga dengan demikian ia akan bisa secara tepat memposisikan dirinya dan tidak salah dalam menempatkan diri. Wallahul a`lam
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar